PALANGKA RAYA – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah memantapkan arah transformasi digital pendidikan dengan menjadikan penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), coding, serta penerapan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sebagai prioritas utama kebijakan tahun 2026.
Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan inovatif.
Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, dalam lanjutan rapat koordinasi daring bersama para pengawas dan kepala SMA, SMK, serta Sekolah Khusus (SKH) se-Kalimantan Tengah, belum lama ini.
Reza menegaskan bahwa integrasi teknologi ke dalam proses pembelajaran harus dilakukan secara konsisten dan terencana.
Guru diharapkan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mempraktikkan pemanfaatan AI dan coding sebagai media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
“Kalau di pusat orang bicara STEM, kita di daerah sudah bicara implementasinya. Artinya, pembelajaran harus berdampak dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sebagai bentuk implementasi, Disdik Kalteng mendorong pembentukan Research Club di setiap sekolah.
Melalui kegiatan ini, peserta didik ditargetkan mampu menghasilkan minimal satu riset atau produk inovasi setiap tahun, sementara guru berperan sebagai pendamping dan pengarah.
Menurut Reza, pola pembelajaran berbasis riset akan melatih kemandirian, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Guru diharapkan mampu mengidentifikasi potensi sekolah agar riset yang dilakukan memiliki kekhasan dan nilai tambah.
Pada jenjang SMA, sinergi lintas mata pelajaran seperti biologi, fisika, dan kimia terus diperkuat guna mendukung riset berbasis sains.
Adapun pada SKH, potensi dan karakteristik peserta didik diharapkan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang aplikatif dan bermanfaat.
Reza juga menyoroti pentingnya pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber riset. Berbagai komoditas daerah dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk inovatif yang bernilai ekonomi dan edukatif.
“Inovasi tidak harus rumit. Hal-hal sederhana di sekitar kita bisa menjadi sumber ide yang bernilai jika dikelola dengan serius,” katanya.
Selain itu, riset berbasis lingkungan turut menjadi perhatian, seperti pemanfaatan sumber daya alam sekitar sebagai media pembelajaran kontekstual.
Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan keterampilan praktis peserta didik.
Untuk SMK, riset dan inovasi diarahkan sesuai kompetensi keahlian, mulai dari teknologi jaringan hingga bidang rekayasa dan vokasi lainnya. Konsep one school one product ditargetkan menjadi standar minimal agar setiap sekolah memiliki karya unggulan.
Lebih lanjut, sekolah didorong aktif mempublikasikan hasil inovasi melalui media digital dan media sosial agar dapat dikenal masyarakat luas.
Ke depan, Disdik Kalteng juga merencanakan penyelenggaraan ajang inovasi berbasis zonasi wilayah sebagai wadah apresiasi dan promosi karya siswa.
Selain itu, peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan industri melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) terus dibuka guna mendukung keberlanjutan pengembangan riset di sekolah.
“Dengan sinergi semua pihak, diharapkan transformasi pendidikan di Kalimantan Tengah semakin kuat dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. (*)













