Dari Palangka Raya untuk Dunia, Huma Betang Hadir sebagai Simbol Persatuan dan Budaya Dayak

banner 728x90

PALANGKA RAYA – Kalteng kembali menorehkan langkah penting dalam pelestarian budaya. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran secara resmi melakukan pemancangan tiang perdana pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng, Jalan Imam Bonjol, Palangka Raya, Kamis (23/7/2026).

Bacaan Lainnya

Pembangunan Huma Betang menjadi wujud komitmen Pemprov dalam menjaga dan mengangkat warisan budaya Dayak agar semakin dikenal luas. Lebih dari sekadar rumah adat, Huma Betang diproyeksikan menjadi simbol persatuan masyarakat Kalimantan yang mampu menghubungkan nilai-nilai tradisi dengan perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Agustiar Sabran menegaskan bahwa filosofi Huma Betang telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Dayak. Semangat hidup bersama dalam keberagaman menjadi modal penting untuk membangun daerah yang harmonis dan maju.

“Huma Betang adalah rumah besar yang mencerminkan persatuan, kebersamaan, dan semangat membangun. Nilai-nilai ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan Huma Betang juga memiliki misi besar, yakni menjadikan Kalteng sebagai salah satu pusat kebudayaan Dayak yang diperhitungkan di tingkat internasional.

Kehadirannya diharapkan mampu menjadi magnet bagi pelaku seni, akademisi, budayawan, hingga wisatawan dari berbagai negara.

Bangunan yang memiliki ukuran sekitar 80 x 170 meter itu akan mampu menampung lebih dari 10 ribu orang. Berbagai fasilitas disiapkan, mulai dari museum, galeri budaya, mess kontingen, ruang serbaguna, hingga area pendukung yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai agenda kebudayaan dan pendidikan.

Keberadaan Huma Betang juga diyakini akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Aktivitas pariwisata, penyelenggaraan event budaya, serta meningkatnya kunjungan ke Palangka Raya diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan sektor usaha lokal.

Selain mengusung desain rumah panggung khas Dayak, bangunan ini akan didominasi penggunaan kayu ulin sekitar 90 persen. Material yang dikenal kuat dan tahan lama itu dipilih untuk mempertahankan karakter arsitektur tradisional sekaligus menghadirkan nilai autentik pada bangunan.

Agustiar berharap seluruh proses pembangunan dapat berjalan sesuai perencanaan sehingga Huma Betang segera dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Harapan kami, Huma Betang menjadi ikon budaya Indonesia yang lahir dari Kalteng dan dikenal dunia. Ini adalah investasi kebudayaan yang manfaatnya akan dirasakan hingga puluhan tahun ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekda Kalteng Linae Victoria Aden menyampaikan, pembangunan Huma Betang dilaksanakan secara bertahap menggunakan APBD Kalteng. Pada Tahap I Tahun Anggaran 2026, Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar Rp39,2 miliar.

Pelaksanaan fisik proyek dikerjakan PT Terajana Graha Utama selama 173 hari kalender, sedangkan pengawasan dilakukan PT Nidisa Estetika selama 240 hari kalender. Secara keseluruhan, pembangunan ditargetkan selesai pada Tahun Anggaran 2027.

Linae menegaskan, Pemprov berkomitmen menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme dalam setiap tahapan pekerjaan.

Dengan demikian, Huma Betang diharapkan tidak hanya menjadi bangunan monumental, tetapi juga pusat pelestarian budaya, edukasi, dan destinasi unggulan yang memperkuat identitas Kalteng di masa mendatang.

Pemancangan tiang perdana ini menjadi awal dari lahirnya sebuah mahakarya budaya yang membawa pesan persatuan. Dari Palangka Raya, semangat Huma Betang dipersiapkan untuk menyapa Indonesia dan dunia. (adv)

+ posts
banner 728x90

Pos terkait