117 Hotspot Terpantau, Kalteng Perkuat Deteksi Dini Demi Wujudkan Bebas Kabut Asap 2026

banner 728x90

PALANGKA RAYA – Pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalteng. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap muncul setiap musim kering menjadi perhatian serius, sehingga berbagai langkah pencegahan dilakukan secara masif dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Melalui BPB-PK Kalteng, patroli udara dan patroli darat kini dilakukan secara intensif untuk mendeteksi kemunculan titik panas sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen mewujudkan Kalteng Bebas Kabut Asap 2026.

Data Posko PDB Karhutla BPB-PK Kalteng per 21 Juli 2026 mencatat sebanyak 117 hotspot tersebar di sejumlah daerah. Kapuas menempati urutan tertinggi dengan 22 titik panas, disusul Lamandau 21 titik, Pulang Pisau 17 titik, Sukamara 15 titik, dan Kotawaringin Timur sebanyak 10 titik.

Selain itu, Barito Selatan tercatat delapan titik, Gunung Mas enam titik, sedangkan Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Palangka Raya masing-masing lima titik. Barito Utara memiliki dua hotspot dan Katingan satu titik. Adapun Murung Raya dan Barito Timur belum terdeteksi adanya titik panas.

Peningkatan jumlah hotspot turut diikuti kejadian karhutla di sejumlah wilayah. Palangka Raya menjadi daerah dengan insiden terbanyak, yakni 12 kejadian dengan luas area terbakar mencapai 7,09 hektare. Kotawaringin Timur berada di posisi berikutnya dengan empat kejadian seluas 5,25 hektare.

Barito Selatan melaporkan tiga kejadian dengan luasan 7,03 hektare, sementara Murung Raya mengalami tiga kejadian seluas 1,26 hektare. Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Sukamara masing-masing mencatat dua kejadian, sedangkan Barito Utara dan Lamandau satu kejadian.

Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng, Ahmad Toyib, menegaskan bahwa penguatan deteksi dini menjadi fokus utama selama musim kemarau berlangsung. Setiap laporan hotspot akan segera diverifikasi untuk memastikan kondisi riil di lapangan.

“Begitu ada indikasi titik api, personel langsung bergerak melakukan pengecekan. Penanganan cepat menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih luas,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Dalam mendukung operasi pengendalian, BPB-PK Kalteng mengerahkan empat unit helikopter untuk patroli udara dan operasi pemadaman jika diperlukan.

Di sisi lain, 238 personel gabungan dari berbagai unsur juga disiagakan untuk memperkuat patroli dan penanganan di wilayah rawan.

Sinergi yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan menjadi modal penting dalam menghadapi ancaman karhutla. Kerja sama lintas instansi memungkinkan respons yang lebih cepat, terutama di daerah yang memiliki akses terbatas.

Di tengah upaya penanganan, masyarakat diminta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan. Edukasi dan sosialisasi juga terus dilakukan agar risiko kebakaran dapat ditekan sejak awal.

Catatan BPB-PK Kalteng menunjukkan, sejak awal Januari hingga 19 Juli 2026, jumlah hotspot yang terdeteksi telah mencapai 2.844 titik dengan total 563 kejadian kebakaran. Sementara laporan lapangan mencatat luas area terbakar mencapai 852,58 hektare.

Hasil verifikasi menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS dan pemeriksaan lapangan oleh Manggala Agni bahkan menunjukkan luas terdampak karhutla telah mencapai 3.069,52 hektare. Data ini menjadi indikator bahwa penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan harus terus dilakukan.

Ahmad Toyib menambahkan, cuaca kering yang merata dan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla di Kalteng.

“Seluruh personel dan satgas tetap berada dalam kondisi siaga. Kami berharap dukungan masyarakat terus meningkat agar target Kalteng Bebas Kabut Asap 2026 dapat tercapai,” tutupnya. (*)

+ posts
banner 728x90

Pos terkait